Skripsi
ESTIMASI SUMBERDAYA TIMAH DAN PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN DATA BOR PADA AREA BEKAS PENAMBANGAN KAPAL KERUK 21 SINGKEP DI LAUT X, PT. TIMAH TBK
Timah (Sn) merupakan logam lunak berwarna putih keperakan yang banyak ditemukan dalam bijih kasiterit (SnO₂) di Indonesia, khususnya di wilayah Sabuk Timah Asia Tenggara seperti Bangka Belitung. Indonesia, bersama dengan Malaysia, Thailand, dan Myanmar, merupakan bagian dari Tin Belt atau Sabuk Timah Asia Tenggara. Selain dalam melakukan hal penambangan, perhitungan cadangan juga penting untuk mengetahui cadangan yang akurat untuk merencanakan proyek penambangan, menentukan metode dan pemanfaatan sumberdaya serta estimasi waktu yang diperlukan. Pada lokasi area bekas penambangan ini kita belum mengetahui secara rinci berapa besar cadangan yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk menganalisis estimasi cadangan timah dengan 2 metode yaitu ordinary kriging dan inverse distance weighting juga memodelkan sumberdaya cadangan secara model 3D untuk menganalisis cadangan timah yang tertinggal pada area bekas penambangan Kapal Keruk 21 Singkep. Untuk mengetahui cadangan timah yang akurat di area bekas penambangan Kapal Keruk 21 Singkep, dilakukan penelitian dengan memodelkan cadangan secara 3D dan membandingkan dua metode estimasi, yaitu Ordinary Kriging (OK) dan Inverse Distance Weighting (IDW). Berdasarkan data pemboran hingga kedalaman 2–34 meter di bawah permukaan laut, litologi didominasi oleh pasir yang mengandung konsentrasi timah tertinggi, terutama pada kedalaman 28–32 meter. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode Ordinary Kriging menghasilkan estimasi sebesar 529,84 ton/m³ dengan kadar Sn 0,42%, sementara Inverse Distance Weighting menghasilkan 567,72 ton/m³ dengan kadar 0,39%. Ordinary Kriging dinilai lebih unggul karena memberikan hasil yang lebih akurat dan detail dalam menangani data yang kompleks, sehingga lebih tepat digunakan untuk perencanaan dan pemanfaatan sumber daya timah yang tersisa