Skripsi
HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI TRANSFUSI DARAH TERHADAP KADAR FERRITIN PADA PASIEN TALASEMIA BETA MAYOR DEWASA DI RS KEMENKES DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
Pendahuluan: Talasemia beta mayor merupakan kelainan genetik yang ditandai dengan gangguan pembentukan rantai β-globin sehingga menyebabkan anemia berat yang memerlukan transfusi darah rutin seumur hidup. Transfusi darah berulang dapat menimbulkan kelebihan zat besi (iron overload) yang ditandai dengan meningkatnya kadar ferritin serum. Peningkatan kadar ferritin yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti jantung, hati, dan endokrin. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional). Data primer diperoleh dari kuesioner pasien di Unit One Day Care Talasemia, sedangkan data sekunder berasal dari rekam medis pasien talasemia beta mayor dewasa di RS Kemenkes Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada periode Agustus–Oktober 2025. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara frekuensi transfusi darah dan kadar ferritin. Hasil: Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi transfusi darah dan kadar ferritin (p=0,003). Pasien dengan frekuensi transfusi yang lebih sering cenderung memiliki kadar ferritin yang lebih tinggi dibandingkan pasien dengan frekuensi transfusi lebih jarang. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi transfusi darah dengan kadar ferritin pada pasien talasemia beta mayor dewasa. Peningkatan frekuensi transfusi darah berkontribusi terhadap meningkatnya kadar ferritin. Pemantauan rutin kadar ferritin dan kepatuhan terapi kelasi besi sangat penting untuk mencegah komplikasi akibat penumpukan zat besi.
| Title | Edition | Language |
|---|---|---|
| HUBUNGAN TRANSFUSI DARAH DENGAN KADAR FERRITIN DARAH PADA ANAK PENYANDANG THALASSEMIA MAYOR DI RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG PADA TAHUN 2021 | id |