Skripsi
HUBUNGAN KADAR VITAMIN A DAN RESEPTOR VITAMIN A TERHADAP LUARAN KLINIK DAN KADAR CA 125 PADA PASIEN KARSINOMA OVARIUM EPITELIAL YANG DILAKUKAN SURGICAL STAGING
Latar belakang: Karsinoma ovarium epitelial merupakan keganasan ginekologi dengan mortalitas tinggi dan sebagian besar terdiagnosis pada stadium lanjut. Vitamin A dan reseptor vitamin A diduga berperan dalam regulasi proliferasi dan diferensiasi sel, sedangkan CA-125 merupakan biomarker yang luas digunakan untuk menilai beban tumor dan memantau respons terapi. Namun, data mengenai hubungan kadar vitamin A, ekspresi reseptor vitamin A, dan kadar CA-125 dengan luaran klinik pada pasien karsinoma ovarium epitelial masih terbatas. Tujuan: Menganalisis hubungan kadar vitamin A serum dan ekspresi reseptor vitamin A terhadap luaran klinik dan kadar CA-125 pada pasien karsinoma ovarium epitelial yang dilakukan surgical staging. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort dengan pendekatan uji korelasi pada 28 pasien karsinoma ovarium epitelial yang menjalani surgical staging di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Subjek dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian mendapatkan kemoterapi paclitaxel–carboplatin selama enam siklus. Variabel yang dinilai meliputi karakteristik dasar, stadium penyakit (FIGO), luaran klinik berdasarkan respons terapi (komplet, parsial, buruk), kadar vitamin A serum, kadar CA-125 serum, dan ekspresi reseptor vitamin A secara imunohistokimia. Analisis data mencakup uji komparatif (ANOVA/Kruskal–Wallis), korelasi Spearman, dengan p < 0,05 sebagai batas signifikansi. Hasil: Sebagian besar subjek berada pada stadium III (60,7%), diikuti stadium II (32,1%) dan stadium IV (7,1%), dengan karakteristik dasar yang serupa antar stadium dan antar kelompok respons terapi. Kadar vitamin A serum tidak berbeda bermakna menurut stadium maupun respons terapi, dan tidak berhubungan dengan kadar CA-125 maupun luaran klinik. Sebaliknya, kadar CA-125 meningkat bermakna seiring kenaikan stadium dan memburuknya respons terapi. Ekspresi reseptor vitamin A juga meningkat signifikan pada stadium yang lebih lanjut dan pada kelompok dengan respons terapi yang buruk. Kesimpulan: Kadar vitamin A serum tidak mencerminkan stadium penyakit, kadar CA-125, maupun luaran klinik pada pasien karsinoma ovarium epitelial yang menjalani surgical staging. CA-125 dan ekspresi reseptor vitamin A lebih menggambarkan derajat keparahan penyakit dan respons terapi, sehingga berpotensi digunakan sebagai biomarker yang lebih informatif dibanding kadar vitamin A serum. Kata kunci: karsinoma ovarium epitelial, vitamin A, reseptor vitamin A, CA-125, surgical staging, luaran klinik