Skripsi
PENYELESAIAN KONFLIK BALAI BESAR WILAYAH SUNGAI SUMATERA VIII PALEMBANG DAN MASYARAKAT TERDAMPAK PEMBANGUNAN BENDUNGAN TIGA DIHAJI MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKASI
Pembangunan Bendungan Tiga Dihaji di Sumatera Selatan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional menimbulkan konflik antara Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII (BBWS) Palembang dan masyarakat terdampak, khususnya terkait pembebasan lahan dan ganti rugi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pendekatan komunikasi yang digunakan BBWS dalam menyelesaikan konflik tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori resolusi konflik Ralf Dahrendorf yang menekankan pentingnya dialog, mediasi, arbitrasi, serta pengakuan atas ketimpangan struktur sosial dalam konflik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BBWS Sumatera VIII menggunakan pendekatan komunikasi yang melibatkan partisipasi masyarakat, sosialisasi, dan dialog terbuka untuk mencapai kesepakatan. Meski begitu, beberapa kendala tetap muncul seperti rendahnya literasi hukum masyarakat, kurangnya kesadaran terhadap manfaat proyek, serta penyebaran informasi yang keliru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi yang strategis dan partisipatif menjadi kunci penting dalam meredam konflik pembangunan, khususnya pada proyek-proyek berskala besar yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Kata Kunci: Resolusi Konflik, Pendekatan Komunikasi, BBWS Sumatera VIII, Bendungan Tiga Dihaji, Miskomunikasi
No other version available