Skripsi
KONSTRUKSI MODEL ADAPTASI KEBIJAKAN MAKAN BERGIZI GRATIS BERBASIS POLICY LEARNING DI SUMATERA SELATAN
Penelitian ini bertujuan mengonstruksi model adaptasi kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis policy learning dalam konteks tata kelola yang desentralistik. Meskipun MBG merupakan kebijakan sosial strategis nasional untuk meningkatkan status gizi dan ketahanan sumber daya manusia, praktik implementasinya di berbagai daerah tidak berlangsung seragam. Perbedaan kapasitas kelembagaan, kesiapan logistik, kolaborasi multi-aktor, serta lemahnya dokumentasi praktik baik membuat proses pembelajaran kebijakan berjalan terbatas dan seringkali tidak terdigitalisasi. Kondisi ini menyebabkan inovasi lokal tidak terdiseminasi, respons terhadap kegagalan teknis berjalan ad-hoc, dan umpan balik ke pusat tidak terstruktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dan analisis dokumen, serta dibingkai dengan typology policy learning (Dunlop & Radaelli, 2013) dan double-loop learning (Argyris & Schön, 1978). Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi MBG di Sumatera Selatan berkembang sebagai proses pembelajaran adaptif yang dipengaruhi interaksi lintas aktor, refleksi kelembagaan, serta penyesuaian kontekstual. Pembelajaran masih didominasi hierarchical learning, tetapi mulai bergerak ke arah reflexive dan bargaining learning melalui penggunaan pangan lokal, pola dapur kolaboratif, dan pengawasan partisipatif. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan Model RASA sebagai model adaptasi kebijakan MBG berbasis pembelajaran. RASA berlandaskan empat prinsip: Reflektif, Adaptif, Sinergis, dan Aplikatif, dengan struktur tiga simpul utama: (1) BGN sebagai kurator pembelajaran nasional, (2) KPPG sebagai simpul koordinasi dan dokumentasi praktik, dan (3) pelaksana lapangan sebagai penghasil data dan inovasi. Model ini dirancang bukan sebagai mekanisme top-down, tetapi sebagai jaringan pembelajaran dengan tiga arah umpan balik vertikal (pelaksana → KPPG → pusat), horizontal (antar pelaksana dan antar KPPG), dan spiral internal di setiap simpul melalui refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Dengan desain tersebut, Model RASA memungkinkan kebijakan lebih kontekstual, responsif, dan berkelanjutan dalam kerangka desentralisasi, sekaligus menempatkan pemerintah daerah sebagai policy learners yang berperan aktif dalam pembaruan kebijakan nasional
No other version available