Skripsi
POLA ASUH OTORITER DAN PENERAPAN HUKUMAN FISIK PADA KELUARGA KELAS MENENGAH BAWAH DI DUSUN X DESA SUNGAI RENGIT KABUPATEN BANYUASIN
Penelitian ini mengkaji pola asuh dan penerapan hukuman fisik dijalankan oleh masyarakat dusun X desa Sungai Rengit Kabupaten Banyuasin yang masih banyak dipraktikkan sebagai strategi pendisiplin anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan strategi fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara para orang tua yang berjumlah delapan orang, observasi penelitian selama dua bulan, dan dokumentasi terhadap empat informan terindikasi otoriter, dan empat informan terindikasi otoritatif. Teori Diana Baumrind digunakan untuk menganalisis kesesuaian gaya pola asuh yang dilakukan orang tua. Hasil penelitian ini menunjukkan pengasuhan dengan penggunaan hukuman fisik juga masih dominan dan diterima secara sosial sebagai bentuk tanggung jawab serta kasih sayang orang tua terhadap anak. Pola ini dipengaruhi oleh budaya lokal, pengalaman pribadi orang tua, tekanan pekerjaan, serta tradisi yang menempatkan orang tua, khususnya ayah sebagai pusat pengambilan keputusan dalam keluarga. Pengasuhan otoriter ditandai dengan komunikasi sepihak dan pemberian hukuman fisik, yang dalam praktiknya kerap menimbulkan ketegangan emosional dan berpotensi berkembang menjadi kekerasan berlebihan terhadap anak. Selain itu, pola pengasuhan otoritatif juga hadir dan mewarnai keberagaman gaya pengasuhan di dusun X desa Sungai Rengit, ditandai dengan keteladanan, kehangatan, serta dukungan terhadap kepercayaan diri dan kreativitas anak. Meskipun demikian, praktik hukuman fisik masih ditemukan pada anak usia 5-12 tahun, hal ini disebabkan karena keaktifan anak yang berlebihan sehingga membentuk kekhawatiran orang tua. Dibandingkan dengan anak 12-18 tahun yang sudah tidak lagi banyak menggunaan hukuman fisik, meski dalam intensitas yang lebih ringan dan tidak dimaksudkan untuk menyakiti, namun masih tetap pada arahan yang keras, dan anak dewasa 18-24 yang mulai menerapkan kemandirian sehingga tidak banyak campur tangan orang tua dalam kesehariannya. Secara keseluruhan, pola pengasuhan otoriter dan otoritatif di dusun X merupakan hasil konstruksi sosial-budaya yang dinamis dan terus mengalami adaptasi seiring perubahan zaman.
No other version available