Skripsi
PENENTUAN ZONA IMBUHAN NON CEKUNGAN AIR TANAH BERDASARKAN ANALISIS ISOTOP PADA DAERAH SUKOMORO DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANYUASIN, PROVINSI SUMATERA SELATAN
Air tanah merupakan sumber daya vital, khususnya di daerah yang berada di luar sistem Cekungan Air Tanah (CAT) utama. Daerah Sukomoro dan sekitarnya di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan merupakan wilayah non-CAT dengan kondisi hidrogeologi yang kompleks, didominasi akuifer bebas hingga semi-tertekan yang terbentuk pada Formasi Talangakar, Formasi Gumai, Formasi Airbenakat, dan Endapan Rawa. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi hidrogeologi, menganalisis karakteristik aliran air tanah, serta menentukan dan memetakan zona imbuhan non-CAT berdasarkan analisis isotop stabil. Data primer meliputi 14 sampel air tanah dan 1 sampel air hujan yang dianalisis menggunakan isotop stabil δ¹⁸O dan δ²H beserta parameter d-excess, serta data muka air tanah dari 11 titik sumur. Data sekunder berupa peta hidrogeologi, data topografi, dan informasi geologi regional turut diintegrasikan dalam analisis. Sistem akuifer dikontrol oleh litologi dan morfologi wilayah, dengan pola aliran air tanah mengikuti gradien topografi dari barat-barat laut menuju timur-selatan, membentuk sistem aliran lokal dan regional. Nilai δ¹⁸O seluruh sampel berkisar antara -6,519‰ hingga -8,110‰ VSMOW, dengan seluruh titik berada di atas atau mendekati Global Meteoric Water Line (GMWL). Nilai d-excess rata-rata +12,323‰ jauh di atas ambang +10‰ mengkonfirmasi bahwa air tanah di daerah penelitian berasal dari air meteorik yang mengalami infiltrasi langsung tanpa pengaruh evaporasi yang berarti. Satu-satunya pengecualian adalah titik K.7 dengan d-excess +9,431‰ yang mengindikasikan pengaruh evaporasi parsial. Berdasarkan integrasi data isotop, d-excess, muka air tanah, TDS, pH, serta kondisi geologi, daerah penelitian diklasifikasikan menjadi lima zona: (1) Zona Imbuhan Primer (Ka-5) dengan elevasi tertinggi dan zona vadose terdalam; (2) Zona Imbuhan Sekunder (Ka.321, Ka-3, Ka-7, Ka-8, Ka.31, SB-5) dengan δ¹⁸O paling negatif (-8,110‰) dan d-excess tertinggi, di bagian barat–barat laut; (3) Zona Transisi Lokal (Ka-4, Ka-6, A-1, PK-3); dan (4) Zona Transisi Regional (K.7, titik 57, titik 89) di dataran rendah bagian timur–selatan. Temuan ini menegaskan bahwa zona imbuhan Non-CAT berkembang secara lokal pada wilayah dengan elevasi tinggi dan permeabilitas batuan yang baik, dan diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan serta konservasi sumber daya air tanah yang berkelanjutan di daerah penelitian.
No other version available